Paro Tshechu 7 Hari

5.0 / 5.0
3 Reviews ( Read Reviews )

Paro Tshechu adalah salah satu festival paling terkenal di Bhutan. Banyak orang melakukan perjalanan dari seluruh dunia dan daerah tetangga untuk berpartisipasi dalam pesta tersebut. Pada hari terakhir perayaan tersebut, Thangkha (Thongdrel) Guru Rinpoche raksasa akan ditampilkan di dalam Dzong. Thongdrel akan ditampilkan pagi-pagi sekali dan hanya beberapa jam saja. Dipercaya bahwa dosa seseorang dapat dihilangkan saat melihat Thongdrel.
 

Day 1

     Kedatangan Anda di Paro, Bhutan

Elevation 2,280 m     Weather in Paro
Saat Anda tiba di Bandara Internaisonal Paro, Anda akan disambut oleh salah satu pemandu kami di luar ruang kedatangan. Berada di ketinggian 7.333 kaki di atas laut, satu hal yang mungkin Anda langsung rasakan adalah efek dari ketinggian tinggi, jadi kami akan memberi Anda waktu untuk menyesuaikan diri di perjalanan ke Thimphu dan masuk ke hotel.
 
Thimphu adalah ibukota Bhutan dan tempat yang tepat untuk bertransisi dari gaya hidup Anda ke gaya hidup negara yang unik ini. Di Thimphu, Anda akan mulai mengenal kebiasaan lokal saat melihat biksu berjubah merah, laki-laki memakai gho bergaris, dan perempuan dengan kira yang berwarna-warni. Saat Anda sudah masuk ke hotel, kita akan mulai menyibak misteri Bhutan dengan berkeliling ke tempat-tempat yang harus dikunjungi di Thimphu. Chorten Tugu Peringatan Nasional dibangun pada tahun 1974 untuk memperingati Jigme Dorji Wangchuk, Raja Ketiga Bhutan (1928-1972). Chorten adalah stupa, atau struktur berbentuk setengah bulat, yang digunakan sebagai tempat bermeditasi. Bangunan berkapur dengan ornamen emas di puncaknya ini adalah tempat yang populer untuk berdoa, karena merepresentasikan kekuatan dan kebaikan dari Raja Ketiga Bhutan.
 
Dzong Thimphu Tashichho adalah sebuah benteng dan biara Buddha dengan desain khas Bhutan yang unik. Berada di pinggir Sungai Wang Chhu, saat ini adalah kantor Druk Desi, kepala pemerintahan sipil, dan kantor bagi raja yang sekarang bertahta.
 
Di akhir minggu, Pasar Petani Abad (Centenary Farmers' Market) dipenuhi oleh banyak petani yang menjual sayuran, keju, gandum, dan terkadang kaki yak. Di seberangnya adalah Kundeyling Baazam, tempat Anda dapat tawar menawar untuk membeli kerajinan tangan setempat, seperti manik-manik mala dan roda doa. Lalu kita akan berkendara ke Buddha Point di Taman Alam Kuenselphodrang untuk melihat patung Buddha Dordenma duduk yang dibuat dari perunggu, menjulang setinggi 169 kaki. Salah satu patung Buddha duduk terbesar di dunia, patung ini berada di atas bukit dikelilingi perbukitan dan pegunungan. Saat Anda kembali ke kota untuk makan malam, Anda dapat berjalan dan melihat-lihat toko, bar, dan kafe.

Hotels:

Day 2

     Tur Thimphu

Elevation 2,320 m     Weather in Thimphu
Setelah sarapan, perhentian pertama kami adalah Museum Nasional Warisan Rakyat (National Folk Heritage Museum), didedikasikan untuk mempertahankan kesenian rakyat Bhutan. Bangunan abad ke-19 yang sudah direnovasi ini berbentuk seperti rumah pedesaan tradisional dengan tiga lantai berisi kesenian tradisional, peninggalan budaya, dan artefak. Demonstrasi juga berlangsung sepanjang hari untuk memperlihatkan bagaimana rakyat Bhutan hidup selama berabad-abad.
 
Di Pabrik Kertas Buatan Tangan Jungshi, Anda akan melihat langsung metode kuno pembuatan kertas. Menggunakan kulit kayu dari dua spesies pohon lokal (Daphne dan Dhekap), perajin akan memperlihatkan kepada Anda pembuatan kertas tradisional Deh-sho. Anda bahkan dapat mencoba membuat kertas Anda sendiri untuk dibawa pulang. Kertas buatan tangan ini biasanya dipakai biksu untuk menulis doa dan mencetak.
 
Tenun dianggap sebagai kesenian nasional Bhutan, maka di Museum Tekstil Nasional, Anda akan melihat kain berwarna-warni yang dipakai oleh orang-orang Bhutan. Berkat Ratu Jetsun Pema, kain Bhutan diperhitungkan sebagai mode kelas tinggi di seluruh dunia. Karena pentingnya menjaga kesenian ini, Pemerintah Kerajaan Bhutan berusaha mempertahankan dan mempromosikan metode tenun tradisional.
 
Lalu kita akan berkendara ke Suaka Margasatwa Takin Motithang, rumah dari salah satu binatang teraneh di dunia. Takin adalah hewan mirip rusa yang dideskripsikan sebagai rusa yang tersengat lebah. Awalnya tempat ini adalah kebun binatang kecil, yang dibubarkan Raja karena ia merasa praktek ini tidak sesuai dengan ajaran Buddha, maka binatang-binatang yang ada dilepaskan ke alam bebas. Tetapi, para takin tidak pergi dan malah berlalu-lalang di jalanan kota mencari makanan. Suaka margasatwa didirikan, dan hewan nasional Bhutan kini dilindungi oleh dekrit kerajaan.
 
Hari ini diakhiri dengan kunjungan ke Dzong Simtokha. DIbangun pada tahun 1629, Dzong ini adalah benteng pertama dengan bentuk ini di Bhutan dan memiliki mural serta pahatan Buddha yang cantik di dalamnya. Simtokha berarti "batu setan" karena menurut legenda, benteng ini dibangun untuk menenangkan setan yang ada di dalam batu, meneror daerah ini. Sekarang, Dzong Simtokha menjadi pusat pembelajaran bahasa Dzongkha, bahasa nasional Bhutan.

Hotels:

Day 3

     Thimphu ke Punakha

Elevation 1,300 m     Weather in Punakha
Hari ini, kita akan pergi ke Punakha, ibukota lama Bhutan hingga tahun 1955, dan akan berhenti di Dochula Pass terlebih dahulu. Obyek wisata yang populer ini memungkinkan Anda melihat Himalaya 360 derajat. Juga tempat 108 Chorten Druk Wangyal yang dibangun di sebuah bukit kecil, untuk memperingati tentara Bhutan yang terbunuh dalam perang dengan Pemberontak Asam dari India pada tahun 2003.
 
Kuil Druk Wangyal Lhakhang selesai dibangun pada 2008, untuk memperingati 100 tahun berdirinya monarki dan Yang Mulia Jigme Sinye Wangchuck, raja keempat, dan pemimpin perlawanan atas pemberontakan tersebut. Kita akan mengunjungi tempat terindah di Bhutan, Dzong Punakha. Terletak di pertemuan dua sungai, Dzong Punakha adalah contoh menakjubkan dari arsitektur Bhutan. Dibangun di tahun 1637, merupakan dzong tertua kedua dan terbesar di Bhutan. Dikelilingi pohon Jacaranda, sangat indah saat musim semi, bunga-bunganya bermekaran. Bangunan besar dengan 6 lantai dan menara utama yang menjulang setinggi 3.900 kaki. Di dalam benteng, ada 3 halaman besar, salah satunya tempat tubuh Zhabdrung Ngawang Namgyal yang diawetkan, bapak pemersatu Bhutan di abad ke-17. Kuil Druk Wangyal Lhakhang juga menjadi tempat pernikahan Raja Bhutan saat ini, Jigme Khesar Namgyel Wangchuck dengan Ratu Jetsun Pema di tahun 2011.
 
Kita juga akan mengunjungi Chorten Khamsum Yulley Namgyal, yang merupakan hasil unik gabungan kesenian dan arsitektur Bhutan. Dengan arahan Ibu Ratu Ketiga Ashi Tshering Yangdon Wangchuck, bangunan ini memerlukan 9 tahun hingga selesai dibangun karena para arsitek, pelukis, pemahat, dan tukang kayu hanya menggunakan naskah suci untuk membangun kuil 4 tingkat ini. Hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki selama satu jam, Anda dapat melihat jembatan yang dihiasi bendera doa berwarna-warni untuk menyebrangi Sungai Mo Chhu. Di tahun 1999, kuil ini diberkati untuk membuang energi negatif dan memancarkan kedamaian, harmoni, dan stabilitas ke seluruh dunia. Perjalanan Anda ke sana tidak akan sia-sia.

Hotels:

Day 4

     Punakha ke Gangtey

Elevation 3,000 m     Weather in Gangtey
Setelah menginap semalam di Punakha, kita akan menuju daerah lembah glasial terpencil di Gangtey. Lalu berhenti di dekat Sopsokha untuk berjalan kaki melintasi sawah berteras ke kuil Chimi Lhakhang. Terletak di sebuah bukit kecil, kuil ini didedikasikan untuk Lama Drukpa Kuenlay, seorang guru agama eksentrik dari akhir abad ke-15 yang menggunakan humor, lagu, dan tindakan yang keterlaluan untuk membagikan ajarannya, membuatnya mendapatkan gelar Divine Madman (Orang Gila Suci). Juga dikenal sebagai kuil kesuburan, wanita bepergian ke sana untuk berdoa, dan dipercaya bahwa banyak yang hamil segera setelahnya. Chimi Lhakhang memiliki estetika yang sangat aneh, karena Anda akan menemukan simbol lingga yang berwarna-warni yang dilukis pada seluruh bagian bangunan ini.
 
Kita akan melewati Wangdue, kota terakhir sebelum memasuki daerah terpencil di Bhutan tengah. Dengan dramatis bertengger di sisi bukit, kita akan melihat Wangdue Phodrang Dzong. Sayangnya, kebakaran tahun 2012 memusnahkan gedung, jadi kita hanya dapat melihatnya dari luar karena rekonstruksi sedang berlangsung. Wangdue memiliki pasar kecil dan daerah ini dikenal karena hasil kerajinan bambu dan pahatan batunya. Kita juga akan melihat wajah Buddha, sebuah fenomena alam yang tampaknya terbentuk dari batu alam.
 
Melalui pegunungan di Bhutan tengah, kita akan memasuki Lembah Phobjikha, juga dikenal sebagai Lembah Gangtey. Lembah berbentuk mangkuk ini berbatasan dengan Taman Nasional Jigme Singye Wangchuck, dan seluruh areanya adalah cagar alam. Di sini Anda dapat melihat bangau berleher hitam (Grus nigricollis) yang bermigrasi ke sini dari bulan November hingga Maret. Anda juga dapat melihat hewan asli Bhutan lainnya, seperti muntjac, sambar, serow, macan tutul, rubah merah, atau yak.
 
Di sebuah bukit yang menghadap ke seluruh lembah adalah Gangtey Goempa, sebuah biara abad ke-17 yang besar. Tshokhang (aula doa) dibangun dalam gaya Tibet dan memiliki delapan pilar besar. Tsechu lima hari (festival) diadakan di sini setiap musim gugur di mana penduduk setempat dan para biarawan melakukan tarian tradisional dengan topeng dan pedang berwarna-warni untuk mengusir roh jahat dan merayakan panen.
 
Di sini Anda dapat tinggal di hotel atau merasakan kesempatan langka tinggal serumah dengan keluarga setempat. Biasanya berbentuk rumah pertanian, Anda akan mempunyai pengalaman melihat budaya keluarga dan keramahanan.

Hotels:

Day 5

     Gangtey ke Paro

Elevation 2,280 m     Weather in Paro
Hari ini kita kembali ke Paro dan keindahan pemandangan Lembah Paro. Daerah ini memiliki banyak biara, kuil, dzong, dan keajaiban alam yang membuat Bhutan menjadi negara yang mempesona. Terletak di perbatasan barat laut Bhutan dan Tibet adalah Gunung Chomolhari (Jomolhari).
 
Pada ketinggian 24.035 kaki, merupakan puncak gunung tertinggi ketiga Bhutan dan sering disebut sebagai istri Kangchenjunga, gunung tertinggi ketiga di dunia. Air es yang mengalir dari wilayah pegunungan mengalir hingga sungai Paro Chhu dan Amo Chhu. Rinchen Pung Dzong, biasanya disebut Rinpung Dzong, berarti Benteng pada Tumpukan Permata karena dibangun dengan batu, bukan tanah liat. Dzong ini dianggap sebagai salah satu dzong paling mengesankan di Bhutan dan merupakan contoh terbaik dari konstruksi Bhutan abad ke-15 dan 17.
 
Terletak di Paro Chhu di sebelah utara bandara, benteng itu digunakan untuk berlindung terhadap invasi Tibet. Pada tahun 1907, terjadi kebakaran dan pada tahun 1969, jembatan gantungnya tersapu oleh banjir. Dzong yang sudah dipugar sekarang menjadi rumah monastik, pemerintah, dan kantor peradilan. Di dekatnya ada Ta Dzong, menara pengawas tujuh lantai berbentuk silinder yang dibangun pada tahun 1649 dan sekarang menjadi Museum Nasional Bhutan. Museum ini menyimpan artefak, senjata, tekstil, dan seni Bhutan dari 4000 SM hingga saat ini. Bangunan ini berbentuk keong dengan konstruksi spiral di dalam dan luar.

Hotels:

Day 6

     Paro Tshechu

Elevation 2,280 m     Weather in Paro
Di hari terakhir, kita akan mendaki sehari ke Biara Taktsang (atau Sarang Macan/Tiger's Nest), salah satu tempat yang paling terkenal di Bhutan. Dibangun dengan berbahaya pada sisi lereng bukit, ketinggiannya lebih dari 10.000 kaki di atas permukaan laut. Biara ini hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki, mengikuti jalur yang didekorasi dengan bendera doa warna-warni untuk melindungi wisatawan dari roh jahat. Dibangun di atas gua tempat Guru Padmasambhava bermeditasi selama 3 tahun, Bapak Buddha Bhutan dari abad ke-8 ini dikatakan datang menunggangi seekor macan betina. Salah satu tempat sakral di Bhutan yang mempunyai pemandangan menakjubkan untuk orang-orang yang cukup kuat sampai ke atas.
 
Lalu kita akan berkendara ke Paro bagian utara untuk mengunjungi reruntuhan Dzong Drukgyal. Dibangun di tahun 1647 oleh Zhabdrung Ngawang Namgyal, sang pemersatu Bhutan abad pertengahan, Drukgyal Dzong digunakan sebagai kubu pertahanan melawan tentara Tibet. Setelah kebakaran menghancurkannya di tahun 1951, benteng ini tetap menjadi reruntuhan sebagai simbol dari kemenangan militer di masa lalu. Di hari yang cerah, Anda juga dapat melihat puncak bersalju dari Gunung Chomolohari.
 
Di penghujung hari, kita akan mengunjungi Kyichu Lhakhang, sebuah kuil Buddha yang indah dari abad ke-7, salah satu kuil tertua di Bhutan. Menurut legenda, roh raksasa berbaring di sepanjang pegunungan Himalaya untuk mencegah penyebaran agama Buddha. Raja Tibet, King Songsten Gambo, membangun 108 kuil di seluruh daerah dan di sekitar tubuhnya untuk menahan dirinya, dan Kyichu Lhakhang dibangun untuk menahan kaki kirinya.

Hotels:

Day 7

     Meninggalkan Paro

Elevation 2,280 m     Weather in Paro
Hari ini kita akan meninggalkan negara Himalaya ini dan mengambil penerbangan awal. Kami berharap Anda sudah berteman dan juga membawa pulang banyak foto dan kenangan indah dari Bhutan. Kami berharap akan bertemu lagi dengan Anda di negara yang menakjubkan ini! Tashi Delek!
 
What's Included

Suitable Months
  • Festival Date: 27th Mar 2018 - 31st Mar 2018
Prices
What's Excluded

Our Guarantee

Guaranteed Visa approval. We have yet to disappoint a single of our travellers in term of Visa issuance.

Your choice of hotels will be confirmed for your inspection before your arrival. We only book you on hotels which we love and would love again.

We will be happy to change your guide, driver or vehicle on the first two days of arrival in Thimphu if you are not satisfied with our selection. Drop us a note and our hospitality team be on the spot to assist you.

We’re here to help. Our world-class member services team is available by phone or email — there's no automated system or call center; you'll communicate with a real person.

Ask Us A Question



Login is required to post a question.

Recent Customer Reviews 5.0 / 5.0 ( Read Reviews )


100.0 % of Our Travellers Recommend This Travel Plan

Sort by: Newest / Oldest

 
AN
Angie Ng
Singapore, Mar 2018

You're right tears almost drop when Tashi wave 👋🏿 good bye at airport.

+Read Full Review


Mandy, Siew Hoon and Alicia
Singapore, Apr 2017

We are pleased that we made the right choice to travel with Druk Asia.
I'd like to compliment 3 of your employees, Sonam Younten, Nawang Tshering and Ugyen Tenzin (aka Zang Po/Shang Po) on the excellent services they have delivered.
First of all, our very first contact from Druk Asia, Sonam Younten. He has been very patience, fast response to our queries and more importantly accommodate to our many requests.
Our tour guide, Nawang Tshering is a friendly, helpful & informative guide. He is also knowledgeable and gave useful tips during the tour. We appreciate his patience and enjoyed the meaningful stories and history lessons that he shared. To suit our physical constraints, Nawang was very considerate and encouraging especially on our first trekking trip to tiger nest.
The accommodations

+Read Full Review


CG
Cherry Gold
Australia, Apr 2017

We had such an amazing time in Bhutan. It was so difficult to say goodbye!
My sister and I cannot sing enough of our praises for Druk Asia - especially our guide Tshetrim and driver JamYang. Tshetrim was an awesome guide. He was knowledgeable, professional and an absolute gentleman throughout our stay. He definitely went above and beyond to make our time in Bhutan memorable. We even had other tourists comment on how thoughtful Tshetrim was. JamYang was experienced and skillful in his driving. We always felt safe with him behind the wheel. We owe so much of our wonderful experience in Bhutan to the both of them.
Thank you also for arranging an upgrade of our hotel rooms. We have only praise for all the places we stayed especially Zhiwaling - such a beautiful hotel.
We loved everything about

+Read Full Review


Read More Testimonial »