Suasana Bhutan

BY Ryandall Lim
Posted on 05/December/2017

Ryandall Lim yang baru pernah mengunjungi Bhutan untuk pertama kalinya percaya bahwa inti yang sebenarnya dari negara yang indah ini terletak pada banyak momen ajaibnya.
 
"Terlalu mendung, sayang sekali," gumam pramugari ketika aku bertanya di mana gunung-gunung itu berada. Aku menyender dan memasang sabuk pengaman, kecewa karena puncak - puncak pegunungan Hilamaya yang tertutup salju - yang begitu banyak diperlihatkan di dalam banyak buku panduan - tidak dapat aku lihat.
 
Tetapi ketika kami melewati lapisan tebal awan-awan yang seperti permen kapas, pemandangan hijau mulai perlahan terlihat. Tdak lama setelahnya, seluruh lautan bukit-bukit menampakkan diri di bawah kami - pemandangan tersebut terasa seperti ledakan warna yang menggelegar sehingga aku mendapati diriku memicingkan mata sejenak.
 
Seperti naga di dalam mitos yang sedang mendekat secara agung, pesawat kami meliuk-liuk di antara gundukan yang bergelombang, kadang-kadang begitu dekat dengan lereng bukit yang curam sehingga saya membayangkan pohon-pohonnya melambai ke arah saya. Alam pun terlihat telah meletus menjadi area kemenangan di luar. Di dalam kabin, penumpang mencengkeram sandaran tangan mereka sedikit, terpaku pada jendela kecil mereka. Dengung mesin yang monoton di latar belakang dan tekanan yang sesekali muncul di telingaku tidak banyak mengganggu pandangan dramatis di luar.
 
Kemudian, setelah satu belokan terakhir yang anggun ke kiri, pilot maskapai pun melakukan pendaratan pagi yang sempurna di lembah Paro yang indah dan dicium matahari. Pada detik itu, saya tahu petualangan Bhutan saya akan menjadi suatu keajaiban.
 
Pada hari-hari berikutnya, pemandu saya Kuenzang Tenzin memperkenalkan saya pada dzong (benteng) legendaris, lhakang (kuil) suci , dan goembas (biara-biara) seperti dalam dongeng - highlight dari kunjungan selama seminggu di negara yang mistis dan dikelilingi daratan yang dibatasi Himalaya, India, dan Cina. Dia menjelaskan sejarah-sejarah termasyhur, dan banyak sekali kisah yang dilukiskan dalam bentuk seni di permadani dan patung-patung Buddha yang provokatif di dalam monumen-monumen kuno. Ketika saya sering bingung dengan kisah-kisah mereka, Kuenzang mengambilnya sebagai tantangan untuk memberi pelajaran dengan penuh semangat kepada murid yang sangat lamban dan masih bingung ini yang telah dipercayakan kepadanya.
 
Di Lhakang Kharpo Haa atau Kapel Putih (Kredit foto: Ryandall Lim)
 
Tetapi pada banyak momen yang kebetulan selain selain daftar jalan-jalan ini, saya merasakan inti yang sebenarnya dari Bhutan: yang menikahkan iman, rasa hormat, dan cinta yang teguh untuk semua hal - dari yang supernatural ke yang biasa - dengan cara hidup yang sederhana.
 
1. Polisi dan pencuri pada Tshechu (Festifal)
Kunjungan saya bertepatan dengan salah satu festifal Buddha terbesar di Bhutan, yang diadakan di Trashi Chhoe Dzong Thimphu yang bercahaya. Bersama dengan ribuan penduduk setempat yang memamerkan kostum tradisional indah mereka (tampaknya ini adalah kesempatan langka untuk berdandan, dan menemukan pasangan yang ber-potensi), dan turis-turis yang penuh senjata-senjata fotografi, saya digiring secara sistematis ke salah satu daerah benteng. Saat itu sudah mulai siang, tetapi sekeliling halaman tengah yang besar di sana sudah berdesakan dan melewati kapasitas tempat duduk yang tersedia.
 
Dalam suasana yang cocok untuk para bangsawan - Raja dan Ratu Bhutan secara rutin terlihat di festival seperti itu - dan dengan latar belakang megah benteng yang mengesankan, saya menyaksikan festival Bhutan pertama saya - lengkap dengan tarian topeng ikonik yang diabadikan pada sampul-sampul dari banyak brosur perjalanan.
 
Saya harus menyelinap ke tempat duduk barisan depan untuk melihat tarian topeng yang ikonik (Kredit foto : Ryandall Lim)
 
Setelah mendapatkan foto-foto close-up yang cukup, saya menyimpang dari bagian turis yang disediakan, dan meng-explore area berumput di dekatnya. Lusinan anak-anak dengan pakaian terbaik mereka yang penuh warna berlarian di sekitar pohon dengan senjata mainan plastik. Tidak menyadari pertunjukan yang orang tua mereka datangi untuk mengumpulkan pahala, anak-anak ini sibuk bermain polisi dan pencuri. Di sini juga ada kelompok keluarga yang menikmati makanan yang telah mereka persiapkan khusus untuk hari itu. Suasananya ceria. Terutama, senyum dan tawa melimpah - dan menular - bahkan ketika matahari yang menyilaukan mulai memanaskan Thimphu.
 
Seorang polisi kecil yang sedang bergaya (Kredit foto : Ryandall Lim)
 
2. Ayah saya lebih kuat dari ayahmu
Setelah hari yang panjang mengabadikan banyak atraksi di Punakha yang terlihat seperti di banyak kartu pos, kami menuju ke hotel di puncak bukit yang disertai dengan pemandangan ikonik benteng Punakha yang menakjubkan dan sungai Mo Chhu dan Pho Chhu yang semarak. Anak-anak berseragam sekolah berjalan menuruni bukit, mungkin setelah kelas sore mereka.
 
Sementara Keunzang dan sopir terpercaya saya, Chateo, membantu dengan proses check-in, saya menyapa sekelompok anak sekolah yang cerewet di luar pintu masuk hotel dan bertanya apakah saya bisa memotret mereka dengan Punakha yang cantik sebagai latar belakangnya. Yang mengejutkan saya, mereka menyetujuinya tanpa ragu-ragu, dan dengan antusias mulai berpose mencolok, seolah-olah mereka bersaing untuk Model Sekolah Dasar Bhutan Berikutnya.
 
Saya menunjukkan foto-foto yang saya ambil kepada mereka, dan berkomentar bahwa mereka semua terlihat sangat tampan. Seolah-olah diberi petunjuk, mereka mulai saling bersaing dan mencoba meyakinkan saya siapa yang pantas mendapatkan gelar paling gagah.
 
Saya menyapa banyak teman mengobrol ini untuk sebuah foto, tetapi mereka malah berdesak-desakan untuk meminta perhatian saya sebagai gantinya (Kredit foto: Ryandall Lim)
 
Mereka lalu menyombongkan ambisi mereka, kekuatan ayah mereka, rumah-rumah mereka, di antara banyak hal lainnya, dalam kepolosan yang tidak tercemar layaknya anak-anak. Bahkan setelah melambaikan tangan, mereka melanjutkan olok-olok nakal mereka.
Matahari baru saja terbenam, dan Punakha Dzong yang tinggi sekarang diterangi cahaya yang sangat indah. Pemandangan itu juga bersaing untuk mencuri perhatian saya.
 
3. Keindahan dan binatang buas
Perjalanan sehari saya ke Gangtey jelas menyiksa - setidaknya untuk bagian pertama. Kami sepertinya terus-menerus menanjak dan menuruni jalan pegunungan yang berliku, dan Chateo hanya melambat ketika kendaraan mendekat dari arah yang berlawanan di jalur tunggal tanpa penghalang. Harus kuakui dia ahli, tapi entah bagaimana aku merasa dia sedang dirasuki Lewis Hamilton.
 
Saya ingat melihat keluar jendela dari kursi belakang, dan memperhatikan jurang yang curang dan tertutup pepohonan; berjarak hanya beberapa sentimeter dari ban mobil yang dengan cepatnya bergeser ke sisi lain untuk mencegah kemungkinan sudut-sudut yang berbahaya. Dengan melakukan itu saya menyebabkan pembagian berat yang tidak seimbang, yang mengakibatkan Chateo memberi saya pandangan yang tak terhindarkan melalui kaca spion. Saya sangat cemas, saya duduk diam; dan bagi seseorang yang tidak membutuhkan alasan untuk berbicara, itu membuatku sangat tidak nyaman. Tapi saraf saya segera mereda dengan melihat banyak air terjun kecil yang menenangkan mengalir menuruni bukit.
 
Jalan berliku ke Gangtey dihiasi dengan air terjun yang mengalir deras (Foto kredit: Ryandall Lim)
 
Ketika kami mendekati sebuah tikungan berumput yang dipenuhi bunga-bunga kuning kecil, seekor binatang kecil, coklat, dan bertanduk membuat kontak mata cepat dengan kami dari kejauhan, sebelum berlari ke semak-semak. Ketika kami berhenti untuk menjawab panggilan dari sang alam, tiga ekor kuda gagah yang ingin tahu mengintip dari cabang-cabang di atas, lalu dengan cepat pergi menjauh, seolah malu melihat pemandangan itu.
Sebelumnya, dalam perjalanan ke Chimi Lhakang atau kuil Divine Madman, saya memotret seekor kupu-kupu yang memamerkan sayapnya yang bercahaya. Malam sebelumnya, seekor kelabang yang sangat panjang melakukan kunjungan yang tidak diharapkan ke kamar hotel saya. Rasanya hampir tidak wajar menjadi begitu dekat dengan keindahan dan binatang asli ini.
 
Pemandangan alam paling cerah dan indah (Foto kredit: Ryandall Lim)
 
4. Ladang Emas
Setelah hari yang sibuk di Gangtey (saya menyaksikan tsechu (festifal) kedua saya, mengunjungi Lembah Phobjikha - tempat bertenggernya burung bangau berleher hitam yang terancam punah, dan mengikuti beberapa acara di pekan raya festival yang menghasilkan uang tunai yang cepat - banyak penduduk setempat yang kesal karena telah mencoba keberuntungan mereka selama berjam-jam!), kami kembali ke Punakha, tempat saya menghabiskan malam di rumah pertanian yang sederhana namun nyaman.
 
Rumah sederhana itu diubah untuk melayani kebutuhan wisatawan dengan nyaman, seperti pasokan air panas, soket listrik di kamar, dan kasur lantai yang nyaman yang ditutupi dengan kain putih bersih, dengan bantal lembut dan selimut mewah. Pasangan pemilik rumah yang masih muda itu menjelaskan bahwa mereka ingin mengintip kehidupan para pengunjung, sehingga mereka meninggalkan kehidupan pertanian mereka, menyewakan sebagian tanah mereka, dan memulai usaha wirausaha mereka - tempat homestay pertama di desa.
Tshering, dan istrinya Dago, lulusan komunikasi bisnis, sangat ramah, dan memberi saya makan malam sehingga saya merasa seperti digemukkan untuk menjadi santapan pesta orang lain. Setelah beberapa gelas anggur beras pasca makan malam (diseduh sendiri oleh nenek mereka yang manis dan masih bergigi), saya pun terlelap layaknya sang putri tidur.
Subuh berikutnya, dibangunkan oleh paduan suara burung berkicau dan anjing menggonggong, aku merayap keluar dari rumah pertanian tepat pada waktunya untuk menyaksikan seberkas sinar matahari ksatria teras padi di sekitarnya, mengubah mereka menjadi ladang emas yang cemerlang.
 
Di cakrawala, barisan pegunungan bergerigi yang beberapa detik lalu diselimuti kabut, sekarang menatap kembali ke arahku. Wangi udara pagi yang sejuk dapat dirasakan di beberapa bagian, namun masih mengundang - seperti campuran bunga kering yang renyah, tanaman liar, sedikit tanah basah, dan sejumput kotoran - ah ya, bunga rampai alam.
Satu demi satu, para petani mulai berada di traktor mereka, anak-anak berbaris ke sekolah, sementara yang lebih muda bermain-main di taman bermain mereka yang diberikan dewa. Terhadap simfoni aneh dari suara-suara kicauan dan gonggongan, Punakha telah membukakan tirai kehidupan bagi saya.
 
Para petani memulai hari mereka ketika Punakha bangun (Kredit foto: Ryandall Lim)
 
5. Mengejar unicorn
 
Ketika menempuh perjalanan ke Haa, kami berhenti sebentar di Thimphu sehingga saya bisa mencoret daftar to-do saya sebagai turis: membuat prangko pribadi yang tampak menonjol, melihat hewan nasional Bhutan - takin - dari dekat, dan mendokumentasikan "polisi menari" khas kota tersebut. Dibesarkan di sebuah negara di mana keteraturan dikondisikan oleh hukum, penanda jalan dan denda, sungguh terasa sangat menyegarkan melihat pengendara dengan patuh menunggu giliran mereka hanya dengan mengamati tangan polisi yang bergoyang-goyang, menghipnotis dengan sarung tangan putih; dan berdiri di bawah sebuah paviliun di tengah-tengah ibukota satu-satunya di dunia yang bebas lampu lalu lintas.
Ketika kami berjalan menanjak Chele La Pass pada sore hari, saya tidak terlalu berharap: hari ini berawan sepanjang hari, dan upaya saya sebelumnya untuk melihat bahkan satu puncak gunung yang jelas - di Dochula Pass, dan selama penerbangan saya di sini - telah gagal. Secara mental saya mencatat banyak rambu-rambu peringatan kecepatan yang tidak menyenangkan seperti "Seseorang yang mengemudi seperti neraka pasti akan tiba di sana" ketika saya melihat awan aneh yang tampak sangat aneh. Lalu saya tersadar - itu bukan awan.
 
"Apa itu?" Saya bertanya.
 
Ada jeda yang sangat panjang ketika Kuenzang dan Chateo berusaha mengidentifikasi apa yang saya tunjukkan, di cakrawala yang mencolok.
"Itu Jomolhari! Saya pikir kita lebih baik berhenti di sini sehingga Anda dapat mengambil foto dengan cepat sebelum awan menutupinya! ” seru Chateo dengan sangat bersemangat - suaranya tiba-tiba terdengar lebih tinggi. Saya mengambil beberapa gambar tetapi karena kami masih 8 km dari atas, pemandangannya sedikit dikaburkan oleh pepohonan. Kedua penduduk setempat itu sekarang bertekad untuk mengejar Jomolhari dan memamerkannya dari atas Chele La Pass ke tamu mereka. Dan begitulah yang mereka lakukan.
Tetapi kita tidak hanya menangkap gunung tertinggi Bhutan dalam keagungannya yang tertutup salju, Sang Ibu Pertiwi memiliki sesuatu yang lain untuk kita. Lucunya, saya melihat Jomolhari melalui lensa kamera saya untuk waktu yang lama sehingga pada awalnya saya tidak menyadari pelangi muncul di sebelahnya. Ketika saya meletakkan kamera saya untuk mengambil semuanya, saya akhirnya melihat bahwa busur penuh telah terbentuk - dan itu menjadi lebih bersinar semakin berlalunya waktu! Seolah-olah satu pelangi lengkap tidak cukup langka, yang lain muncul di atasnya. Sekarang, bahkan awan gelap di sisinya tampak seperti naga yang sedang tidur.
Kami adalah satu-satunya di Chele La Pass pada momen yang sangat menakjubkan itu. Dingin sekali, tetapi saya merasa hangat; dan terlepas dari bendera doa yang berkibar di sekitar kami, ada suara keheningan yang nyata. Aku cukup yakin bahkan unicorn mengintai di suatu tempat di sekitar.
 
Sekilas fantasi di Chele La Pass (Foto kredit: Ryandall Lim)
 
6. Teh filsafat
 
Hari yang paling melelahkan - tetapi menggembirakan - telah disimpan sampai hari terakhir, ketika kami menempuh perjalanan, bersama dengan ratusan lainnya, ke biara paling ikonik di Bhutan.
 
Selama hampir dua jam, saya ditemani oleh celana saya sendiri yang berisik dan otot-otot paha yang terbakar - yang mengancam untuk memberontak dan kram saat saya semakin dekat dengan tujuan saya. Tidak ada cara mudah untuk sampai ke sana; bahkan kuda-kuda yang disewakan hanya diperbolehkan untuk menempuh separuh jalan dari rute tersebut. Dari sana, kami semua sama lagi, dalam perjalanan kaki masing-masing ke Taktshang Goemba - Sarang Harimau dalam dongeng.
 
Ketika kami mencapai titik pandang, para biksu di biara baru saja memulai sebuah upacara. Mungkin saya terlalu dramatis, tetapi aku cukup yakin gema nyanyian mereka melalui pegunungan memperlambat napasku. Anehnya, saya juga tiba-tiba memperhatikan betapa hijaunya bukit-bukit itu, betapa manisnya udara, dan betapa tidak penting lagi jika saya pergi ke biara atau tidak.
 
Aku naik ke batu besar dan duduk memandangi pemandangan mistis yang diukir secara spektakuler ke wajah tebing yang membumbung tinggi. Kuenzang ada di sebelahku, tapi dia diam. Saya pikir dia tahu saya mengalami momen spiritual.
 
Sarang Macan mungkin paling dihargai di kejauhan, dalam keadaan tenang, tanpa napas dalam-dalam yang membuat saya tuli atau menenggelamkan pikiran saya. Setelah beberapa foto suvenir, kami kembali ke rumah peristirahatan. Sekarang, terhubung dan diperbarui oleh pengalaman bersama, kami berbicara tentang kehidupan, masa depan, dan filsafat sambil minum teh - berinteraksi seperti teman lama dari kehidupan sebelumnya.
 
Memiliki momen pribadi dengan Sarang Macan (Kredit foto: Ryandall Lim)
 
7. Dari surga
 
Penerbangan saya keluar dari Paro berada pada jam subuh yang tidak bersahabat, tetapi saya sengaja mengurangi jam tidur saya selama beberapa menit dengan sengaja supaya saya bisa tiba lebih awal saat check-in dan menjamin tempat duduk dekat jendela. Seperti déjà vu, pemandangan saat lepas landas adalah pemandangan indah dari perbukitan hijau dan tebing curam yang menyambut saya seminggu yang lalu.
 
Beberapa menit kemudian, kami terbang menembus lapisan awan pertama dan kali ini, langit biru terlihat dengan sangat jelas. Kemudian, piramida-piramida putih kecil mulai bermunculan seolah-olah mengambang di jala awan-awan tebal. Saya pikir itu adalah fatamorgana tetapi saya mendengar suara klik dari kamera penumpang yang duduk di belakang saya. Dalam sekejap mata, pemandangan menakjubkan yang banyak sekali terlihat di banyak buku panduan perjalanan - namun menghindari saya pada saat kedatangan - mulai terlukis di hadapan saya. Saya sedang memandangi atap dunia, dengan segala kemegahannya. Mereka jauh di cakrawala, tetapi sinar matahari pagi memastikan untuk memantulkan puncak bersalju mereka seperti suar yang menyilaukan.
 
Semua hal baik harus berakhir sementara, jadi pesawat yang membawa saya itu bergerak miring dan meninggalkan pemandangan yang menakjubkan tersebut. Itu adalah hadiah perpisahan surga bagi banyak pengunjung yang datang untuk melihat seperti apa kebahagiaan itu.
 
Perjalanan saya dibungkus dengan pemandangan atap dunia yang rendah hati (Foto kredit: Ryandall Lim)
 
Bhutan mengajari saya bahwa saya tidak harus menjadi religius untuk menjadi spiritual; itu semua tentang menghargai dan hidup di masa sekarang. Saya melihat bagaimana orang terhubung antara satu sama lain, lingkungan mereka, situasi mereka, dan mendapat kepuasan dari semuanya itu.
 
Tetapi di atas semua itu, momen-momen ajaib yang saya alami secara kebetulan akan tetap tak terlupakan. Mereka membuat saya merasa sangat rentan - sangat kecil,mengembara di sebuah perjalanan bersama miliaran orang lain, dalam petualangan besar yang disebut kehidupan.
 
Untuk beberapa waktu, saya tidak mengerti apa yang dimaksud ahli filsafat Perancis Pierre Teilhard de Chardin ketika dia berkata: “kita bukan manusia dalam pengalaman spiritual; kita adalah makhluk spiritual berdasarkan pengalaman manusia ”.
 
Pada akhir perjalanan saya ke Negeri Naga Halilintar, saya mengerti.

MORE BLOG

Planning to go Bhutan?

Join 16,710 travelers who have benefited from our expertise.